Rabu, 02 Januari 2008

MENGHADAPI MASA PUBERTAS KAUM REMAJA

MENGHADAPI MASA PUBERTAS KAUM REMAJA

Oleh : Agus Santoso

Berdasarkan prediksi WHO, pada tahun 2000 nanti akan ada 110 juta penderita HIV/ AIDS , dimana 65 % akan menyerang kaum muda. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta, mengenai perilaku remaja, ternyata sekitar 6-20 persen siswa SMU dan mahasiswa pernah melakukan hubungan seks pra nikah. (Pikiran Rakyat, edisi 31 Oktober 1999).

Tingkat kerawanan masa remaja memang sudah sedemikian mengkhawatirkan. Apabila gejala seperti ini tidak mendapat penanganan yang serius, maka hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas generasi kita di tahun-tahun mendatang. Sejak berabad-abad silam Islam telah memberikan paket solusi yang tepat, namun sayangnya hal ini banyak dilupakan orang, termasuk oleh kaum muslim itu sendiri.

Masa remaja adalah masa transisi yang penuh gejolak. Pada masa ini mulai terjadi perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, organ-organ tubuh tertentu, seperti organ reproduksi atau organ seksual dan jaringan syaraf mulai berfungsi. Sedangkan secara psikis, mulai mengalami perkembangan emosional dengan ditandai adanya kecenderungan terhadap lawan jenis, adanya keinginan untuk memiliki teman khusus yang disukai, dan mulai melepaskan diri dari kendali orang tua, dll.

Oleh karena itu, masa ini merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia. Dorongan-dorongan seksual mulai muncul. Apabila tidak diarahkan secara tepat, maka dorongan-dorongan itu akan dapat menjerumuskan para remaja. Apalagi sekarang faktor lingkungan sangat merangsang munculnya penyimpangan seksual (zina). Acara-acara di televisi, tabloid, majalah, internet dan media-media lainnya dapat merangsang untuk mencoba dan menyalurkannya pada hal-hal yang haram.

Masa remaja ini juga sering disebut sebagai masa pubertas yang merupakan salah satu fase pertumbuhan yang dialami seseorang. Masa ini berjalan sekitar delapan atau sepuluh tahun, yakni pada masa antara usia 11 sampai 21 tahun.

Secara individu masa pubertas berbeda antara seorang laki-laki dan perempuan. Dari segi usia, laki-laki menjalani masa ini mulai usia 13 sampai 15 tahun. Sedangkan perempuan mulai mengalami masa iji pada usia 11 sampai 13 tahun. Iklim di suatu daerah pun memberikan pengaruh signifikan. Di daerah beriklim panas, masa pubertas relatif lebih cepat dialami dibanding di daerah dingin atau sedang.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa ini , disertai dengan gejala-gejala khusus dalam tingkah laku yang menuntut perhatian dan pengawasan. Pada saat ini, mulai muncul misteri-misteri yang mengundang kebingungan dan kegelisahan.

Jika dorongan-dorongan ini tidak disalurkan akan menimbulkan tekanan jiwa akan lahir kekecewaan. Lebih berbahaya lagi,jika pada masa ini tidak disertai dengan bimbingan agama, maka akibatnya adalah sikap kebencian terhadap agama, sikap takut dan akhirnya menghindari nilai-nilai agama. Pergaulan bebas lebih mereka sukai daripada menahan dan mengendalikan hawa nafsu di bawah lindungan agama. Na’udzubillahi min dzalika.

Upaya Solusi Islam

Secara umum, Islam telah memberikan solusi secara preventif, dalam Surat An-Nuur ayat 30 dijelaskan: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka”, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan beberapa ayat dalam surat lainnya

Bimbingan agama sejak dini bisa dijadikan sebagai tindakan preventif agar terbangun benteng yang kokoh pada diri si anak untuk menghalau godaan-godaan nafsu syaithani. Hal ini dapat menghindari terjadinya kesalahan anggapan para remaja terhadap ajaran agama. Tidak akan ada lagi anggapan bahwa agama itu sangat membatasi penyaluran seks mereka atau nilai-nilai agama itu identik dengan larangan-larangan yang sangat menakutkan. Akan tetapi justru sebaliknya, agama akan dianggap sebagai jalan menuju keselamatan, sehingga remaja bisa menahan dan menyalurkan dorongan-dorongannya ke arah yang bermanfaat, seperti giat belajar, berjihad, dll.

Akhir-akhir ini, ramai dibicarakan tentang pendidikan seks (sex education) di kalangan remaja sebagai salah satu solusi bagi mencegah maraknya kasus penyimpangan seksual di kalangan remaja. Namun, sejauh ini masih terdapat pro dan kontra terhadap bagaimana cara menerapkan pendidikan seks tersebut pada anak.

Selain secara preventif, Rasulullah SAW pun telah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana cara untuk mengatasi atau mengobati penderita penyimpangan seksual ini. Melalui metode dialogis, Rasul SAW memberikan upaya penyembuhan secara tepat dan berhasil. Berikut ini petikan dialog Rasulullah SAW dengan seorang pemuda yang datang menghadap beliau untuk minta izin berbuat zina (melakukan hubungan seks di luar nikah). Karuan saja, para sahabat yang ada di tempat itu mencaci-maki pemuda itu.

Pemuda itu berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina.” Rasulullah SAW tidak serta merta membentak dan mencaci pemuda itu sebagaimana orang-orang yang hadir di tempat itu, Rasul SAW yang mulia ini dengan tenang mendekati pemuda itudan duduk di sampingnya. Kemudian Rasul SAW balik bertanya: “Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?” Tentu saja si pemuda tadi tersentak kaget seraya menjawab: “Sekali-kali tidak. Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan.”

Rasul menimpali: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka.” Kemudian Rasulullah SAW mengulang lagi pertanyaan serupa sampai tiga kali, dengan menggantiobjek permisalannya, yakni : bagaimana kalau hal itu terjadi pada saudara perempuanmu, saudara perempuan bapakmu, dan terakhir saudara perempuan ibumu.

Dengan berondongan pertanyaan yang bertubi-tubi itu, menjadikan si pemuda semakin yakin bahwa keinginannya itu adalah perbuatan nista dan ia tidak mau memperturutkan hawa nafsunya lagi. Untuk menenangkan hati si pemuda itu, Rasulullah SAW memegang dada si pemuda sambil berdo’a: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya!” Semenjak itu, pemuda tadi menjadi orang yang arif.

Begitulah Guru Besar kita memberikan terapi yang manjur dan sangat membekas di hati seorang pemuda yang meluap-luap dorongan seksualnya.

Di samping itu, peran orang tua di rumah sangat besar peranannya untuk mencegah terjadinya bentuk penyimpangan seksual pada anak remaja (usia puber). Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para orang tua dalam membimbing anak-anaknya. Antara lain:

Pertama, anak remaja agar dijauhkan dari segala sesuatu yang dapat mempengaruhi nafsu syahwatnya.

Kedua, hindarkan anak dari kebiasaan melamun atau duduk termenung melambungkan angan-angan negatifnya. Arahkanlah anak terhadap aktivitas-aktivitas positif.

Ketiga, pisahkan tempat tidur anak lelaki dan perempuan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Keempat, apabila sudah terlanjur maka bimbinglah untuk bertaubat, mohon ampunan kepada Allah SWt agar dosa-dosanya terhapus dan tidak mengulangi perbuatan nista itu lagi serta kembali ke jalan Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshawab.

Dari berbagai sumber.

sumber : http://agusmupla.files.wordpress.com/2007/10/menghadapi-masa-pubertas.doc

Memasuki Masa Pubertas Tanpa Gejolak

Memasuki Masa Pubertas Tanpa Gejolak

Masa remaja, suatu masa yang setiap orang pasti melewatinya. Begitu menyenangkan namun tidak sedikit yang merasa bingung dan gundah. Kenapa ?

Seringkali seorang anak memasuki masa remajanya tanpa bekal yang cukup, terutama tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya sehingga dapat menimbulkan ketakutan dan keresahan. Hal ini kadang juga dibarengi dengan perasaan malu bertanya kepada orang tua dan lebih memilih tanya pada teman sebaya yang notabene juga senasib dengannya alias sama-sama gak tahu.

Masa pubertas
Masa remaja identik dengan masa pubertas karena pada masa ini telah terjadi kematangan organ reproduksi sehingga terjadi perubahan fisik dan emosi. Perubahan ini adalah suatu hal yang wajar, yang harus mereka kenali dan fahami agar lebih siap, dapat bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut, dan tidak menimbul gejolak yang berlebihan.

Terjadinya perubahan ini waktunya tidak sama pada tiap-tiap anak. Umumnya pada remaja putra 11 – 15 tahun, sedang pada remaja putri biasanya terjadi pada usia 9 – 13 tahun. Kematangan alat reproduksi pada remaja putra ditandai dengan keluar air mani (ejakulasi) yang pertama, yang ditandai dengan mimpi basah, kemudian suara menjadi lebih berat, jakun lebih menonjol, dan tumbuh rambut pada beberapa bagian tertentu.

Adapun tanda kematangan alat reproduksi pada remaja putri berupa pinggul mulai membesar, banyak keringat yang sering diikuti timbul bau badan (BB), haid pertama, jerawat, tumbuh rambut halus pada ketiak, kaki, kelamin luar.

Tanda perubahan fisik ini juga dibarengi dengan terjadinya perubahan psikis diantaranya mulai tertarik pada lawan jenis, tidak PD, gelisah, perasaan ingin bersaing.

Tanpa Gejolak
Munculnya tanda-tanda pubertas seringkali menimbulkan gejolak tersendiri bagi seorang remaja. Hal ini dapat diminimalkan dengan adanya dukungan dari orang tua, guru, dan lingkungan berupa bimbingan dan arahan tentang apa dan bagaimana mereka melewati masanya. Remaja tetap berhak melewati masa pubertasnya dengan ceria tanpa hambatan yang berarti.

Ada hal-hal penting yang bisa dilakukan remaja lebih dari sekedar memikirkan perubahan atau kekurangannya antara lain mengembangkan hobi dan kreatifitas, mengembangkan persahabatan, meningkatkan nilai spiritual, meningkatkan prestasi dan mengembangkan pengetahuan.

Sedangkan untuk mengatasi ke-kurangpede-an karena perubahan diri, setiap remaja hendaknya selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuhnya, khususnya organ reproduksinya dengan cara mandi 2x sehari, keramas 2-3x seminggu, rajin membersihkan muka, mengatasi BB dengan deodorant/sejenis, mengganti pakaian dalam setiap hari, makan makanan bergizi, dan olahraga teratur.

Dengan pengetahuan yang cukup dan dukungan yang optimal diharapkan para remaja dapat melewati masa pubertasnya tanpa gejolak.

Apa itu mimpi basah?
Remaja laki-laki memproduksi sperma setiap harinya. Sperma tidak harus selalu dikeluarkan, ia akan diserap oleh tubuh. Sperma bisa dikeluarkan melalui proses yang disebut ejakulasi, yaitu keluarnya sperma melalui penis. Ejakulasi bisa terjadi secara alami (tidak disadari oleh remaja laki-laki) melalui mimpi basah.

Tips merawat kebersihan organ reproduksi

  1. Jangan memakai celana dalam yang terlalu ketat (torsio, mengganggu spermatogenesis).
  2. Khitan, bagi laki-laki, untuk menjaga kebersihan penis (kulit yang menutupi ujung penis).
  3. Haid. Saat haid rajin berganti celana dalam dan pembalut
  4. Membersihkan/membilas setelah buang air kecil.
  5. Celana dalam harus bersih, sering diganti, dari bahan yang menyerap keringat.

Permasalahan Remaja

Beberapa Permasalahan Remaja


Oleh Lilly H. Setiono
Team e-psikologi


Jakarta, 13 Agustus 2002


Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.


Sebetulnya, apa yang terjadi sehingga remaja merupakan memiliki dunia tersendiri. Mengapa para remaja seringkali merasa tidak dimengerti dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya?. Mengapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami?


Masa Remaja


Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memhami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.


Dimensi Biologis


Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.

Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.


Dimensi Kognitif


Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.

Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.


Dimensi Moral


Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.

Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap "pemberontakan" remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.

Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam. (Baca juga artikel: Perkembangan Moral)


Dimensi Psikologis


Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.

Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja. (Baca juga artikel: Remaja & Tokoh Idola)

Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah "Siapakah Saya?" Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan. Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba – baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan. Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkahlaku. Bila ia merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dirasakannya “akan lebih sesuai”. Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan “sangat pas” dengan dirinya. Proses “mencoba peran” ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal. Tujuannya sangat sederhana; ia ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.

Banyak orangtua khawatir jika “percobaan peran” ini menjadi berbahaya. Kekhawatiran itu memang memiliki dasar yang kuat. Dalam proses “percobaan peran” biasanya orangtua tidak dilibatkan, kebanyakan karena remaja takut jika orangtua mereka tidak menyetujui, tidak menyenangi, atau malah menjadi sangat kuatir. Sebaliknya, orangtua menjadi kehilangan pegangan karena mereka tiba-tiba tidak lagi memiliki kontrol terhadap anak remaja mereka. Pada saat inilah, kehilangan komunikasi antara remaja dan orangtuanya mulai terlihat. Orangtua dan remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda sehingga salah paham sangat mungkin terjadi.

Salah satu upaya lain para remaja untuk mengetahui diri mereka sendiri adalah melalui test-test psikologis, atau yang di kenal sebagai tes minat dan bakat. Test ini menyangkut tes kepribadian, tes intelegensi, dan tes minat. Psikolog umumnya dilatih untuk menggunakan alat tes itu. Alat tes yang saat ini umum diberikan oleh psikolog di Indonesia adalah WISC, TAT, MMPI, Stanford-Binet, MBTI, dan lain-lain. Alat-alat tes juga beredar luas dan dapat ditemukan di toko buku atau melalui internet; misalnya tes kepribadian.

Walau terlihat sederhana, dampak dari hasil test tersebut akan sangat luas. Alat test psikologi dapat diibaratkan sebuah pisau lipat yang terlihat sekilas tidak berbahaya; namun di tangan orang yang “bukan ahlinya” atau yang kurang bertanggung-jawab, alat ini akan menjadi sangat berbahaya. Alat test jika diinterpretasikan secara salah atau tidak secara menyeluruh oleh orang yang tidak berpengalaman atau tidak memiliki dasar ilmu yang cukup untuk mengartikan secara obyektif akan membuat kebingungan dan malah membawa efek negatif. Akibatnya, para remaja akan merasa lebih bingung dan lebih tidak merasa yakin akan hasil tes tersebut. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk mencari psikolog yang memang sudah terbiasa memberikan test psikologi dan memiliki Surat Rekomendasi Ijin Praktek (SRIP), sehingga dapat menjamin obyektivitas test tersebut.

Satu hal yang perlu diingat adalah hasil test psikologi untuk remaja sebaiknya tidak ditelah mentah-mentah atau dijadikan patokan yang baku mengingta bahwa masa remaja meruipakan masa yang snagat erat dengan perubahan. Alat test ini tidak semestinya dijadikan buku primbon atau acuan kaku dalam penentuan langkah untuk masa depan, misalnya dalam mencari sekolah atau mencari karir yang cocok. Seringkali, seiring dengan perkembangan remaja dan perubahan lingkungan sekitarnya, konklusi yang diterima dari hasil test bisa berubah dan menjadi tidak relevan lagi. Hal ini wajar mengingat bahwa minat seorang remaja sangat labil dan mudah berubah.

Sehubungan dengan explorasi diri melalui internet atau media massa yang lain, remaja hendaknya berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil-hasil yang di dapat dari test-test psikologi online melalui internet. Harap diingat bahwa banyak diantara test tersebut masih sebatas ujicoba dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu dibutuhkan kejujuran untuk mampu menerima diri apa adanya sehingga remaja tidak mengembangkan identitas "virtual" yang berbeda dengan diri yang asli. (baca juga artikel: Explorasi Diri Melalui Internet)


Selain beberapa dimensi yang telah disebutkan diatas, masih ada dimensi-dimensi yang lain dalam kehidupan remaja yang belum sempat dibahas dalam artikel ini. Salah satu dari dimensi tersebut diantaranya adalah dimensi sosial.


Tip untuk Orangtua


Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran: Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. Ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya – belajar dari kesalahan. Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

*

Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.
*

Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka. Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.
*

Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.
*

Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.
*

Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.
*

Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini. Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka. Ada remaja yang menurut tanpa membantah keinginan orangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun “diharapkan dan disiapkan” untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka. Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengikuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ….anak hanya titipan, ia milik masa depan dan kita milik masa lalu.
*

Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan. Namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. (jp)


sumber : http://www.e-psikologi.com/remaja/130802.htm

Apa Yang Terjadi Dalam Masa Adolessensi Atau Masa Remaja

Apa Yang Terjadi Dalam Masa Adolessensi Atau Masa Remaja

Oleh : Nungky Gabriel


Adolessensi adalah berasal dari kata latin yang berati “adolescentia”

Meninggalkan ketergantungan masa anak anak menuju kemandirian sebagai orang dewasa.

Kita akan terbiasa dengan kata masa remaja ,masa masa di sekolah , masa pertama mengenal kata cinta dan masa nostalgia, yang mana kita memang tidak akan pernah lepas dari masa kenangan itu baik itu kenangan indah ataupun kenangan yang menyedihkan atau tidak menyenangkan.

Ketika masa Adolessensi para remaja secara physik dengan mudahnya menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada tubuh mereka ,seperti perubahan suara , pertumbuhan bulu di kelamin dan untuk remaja wanita dengan tumbuhnya payudara dan datangnya menstruasi.

Yang mana sebelumnya kata adolessensi di kategorikan untuk umur 17 tahun -30 tahun,sekarang

para psykolog dan para ahli anak menkategorikannya untuk usia 12 tahun-21 tahun.

Bagian pertama dari adolessensi adalah masa pubersitas dimana kata puber berasal

Dari kata latin “PUBES “ yang artinya Bulu yang tumbuh di sekitar kelamin

Dengan tumbuhnya bulu di sekitar kelamin kita akan menganggap bahwa anak itu dewasa.


Apa sebenarnya yang kita ketahui dari anak anak remaja jaman sekarang ?

Pada usia antara 12 -21 tahun banyak pergantian yang terjadi dalam perkembangan tubuh dan mental .

Remaja usia 12 tahun masih minta di temani dan masih ketakutan untuk melakukan sesuatu , Remaja yang berusia setelah 15 tahun biasanya sudah bisa menetukan kemaunanya dan mulai dengan mencari identitasnya sendiri, remaja yg hampir mencapai usia 21 kadang sudah sangat mandiri

.

Ada dua macam perkembangan dalam masa adolessensi yaitu:

1.Perkembangan Dalam masa pertumbuhan Badan

2.Perkembangan Dalam masa pertumbuhan mental

1.Perkembangan Dalam Masa Pertumbuhan Badan (fysik)

Rata rata pertumbuhan manusia berlipat setelah mencapai umur 4 tahun,dan kapan anak itu mencapai umur 13 tahun akan 3 kali lebih panjang dari ukuran sejak lahirnya

Anak perempuan dan anak laki laki sampai umur 10 tahun rata rata akan sama tingginya dan disinilah kita akan melihat perkembangan yang jelas antara kedua jenis yang berbeda,karena

Anak perempuan dalam usia 8 -12 tahun berkembang dan akan kita lihat perubahan yang sangat mencolok sekali seperti , tumbuhnya payudara , datangnya menstruasi, senang bersolek , membesarnya bagian bokong, dan seterusnya. Apa yang terjadi pada anak laki-laki adalah terjadi perkembangan di antara usia 10 - 14 tahun, seperti adanya perubahan suara , tumbuhnya kumis, timbulnya buah jakun ,pembesaran scrotum yang berfungsi sebagai penyimpanan dan pembuatan sperma juga pertumbuhan Penis yang akan membawa ke arah perkembangan rangsangan kegiatan seksualitas..

Setiap Anak memang tumbuh dengan temponya sendiri sendiri ,dan memang itu sulit untuk memastikan kapan terjadinya perkembangan yang sebenarnya.


Sebagai orang tua tentunya kita akan mengerti dengan adanya masa pergantian karena biasanya mereka masih malu malu untuk berbicara tentang pergantiaan pertumbuhan yang terjadi pada dirinya seperti terjadinya : jerawat (acne) , pergantian suara , bertambahnya masa otot , tumbuhnya payudara ,menstruasi dan rangsangan seksualitas.

Ada dua macam istilah pertumbuhan badan dalam mencapai masa adolesensi seperti :

Istilah Primer adalah pertumbuhan yang terjadi langsung pada jenis kelamin untuk mempunyai keturunan seperti pada remaja laki adalah pertumbuhan penis ,tecticle (buah dzakar ) dan scrotum (penyimpanan sperma)

Istilah Secunder adalah pertumbuhan yang terjadi secara tidak langsung dengan fungsi kelamin sebagai alat pemberi keturunan seperti terjadinya pertumbuhan bulu di sekitar kelamin , ketiak membesarnya pertumbuhan di dada , tumbuhnya kumis , tumbuhnya bulu dada (sebagian remaja karena ada factor genetik) dan pergantian suara .Begitu juga sama apa yang terjadi pada remaja perempuan seperti tumbuhnya bulu di sekitar kelamin ,ketiak dan membesarnya bagian bokong juga pertumbuhan payudara.


2.Perkembangan Dalam Masa Perkembangan Mental

Menurut ahli psychoanaliticus Erik Erikson ada beberapa macam para remaja cara mencari identitas dirinya , seperti contoh :

1.Mendapatkan identitas sendiri

Sebetulnya para adolessensi sudah sibuk dengan dirinya untuk mendapatkan jawaban yang mereka kemukakan sendiri di dalam hatinya .

Mereka sudah bisa memastikan apa yang mereka kehendaki dalam memilih , mau jadi apa nantinya ? . Dengan sendirinya mereka akan mencari informasi melalui teman atau melalui media dan lain sebagainya.

2.Mendapatkan identitas dini

Untuk para adolessensi yang identitasnya di tentukan oleh kemauan orang tua, tradisi atau religi,

Bisa menetukan masa depan mereka . Mereka tidak punya kesempatan untuk mencari identitasnya sendiri untuk menentukan pilihannya.

3.Identitas yang kacau dan bingung

Dalam situasi ini para adolessensi belum tahu apa yang harus mereka perbuat , mereka tidak tahu dalam hal untuk memilih ,mereka tidak bisa menetukan siapa dirinya dan kadang mereka mempunyai perasaan yang negatif dan mereka ragu akan kemampuan dirinya.

4. Identitas yang Negatif

Kadang akibat dari lanjutan identitas yang kacau dan bingung (lihat no.3) maka biasanya mereka akan memilih jalan yang justru kontra dengan keinginan orang tuanya dan lingkungan sosial.


Maka di sini kita sebagia orang tua harus alert dan banyak berkomunikasi dengan para remaja dalam masa adolessensi untuk memberikan rasa percaya diri dan dukungan dalam hal memilih karena walau bagaimanapun komunikasi yang baik antara anak dan orang tua adalah merupakan stimulasi untuk kedua belah pihak.

Dalam masa adolessensi ini justru kebanyakan para remaja akan banyak bertemu dengan masalah dan problem yang mereka sendiri belum bisa mengendalikannya.

Contoh permasalahan atau problem dalam masa ini seperti kita sering jumpai seperti :

* Anorexia nervosa
* Adanya pikiran untuk bunuh diri
* Terjerumus ke dunia alcohol dan narkoba
* Malas untuk Belajar /meninggalakan bangku sekolah
* Vandalisme/pengrusakan dan kriminalitas



Anorexia Nervosa kebanyakan terjadi dan populer di dunia remaja perempuan karena mereka selain mempunyai model idola yang mengarah ke dunia fashion juga mereka selalu sibuk dengan mengurus tubuhnya dan selalu ingin bersolek untuk bisa semenarik mungkin pada lawan jenisnya ,kadang mereka takut makan karena takut di tertawakan kalau dia kegemukan atau jadi tidak menarik lagi.

Anorexia nervosa adalah bukan masalah sekarang tetapi sudah di temukan pada tahun 1873 .

Tanda tanda Anorexia nervosa kita bisa perhatikan apabila seorang remaja perempuan :

1. Mereka lebih kurus 25% dari berat badan normal dan tinggi badan karena akibat ekstrimnya pengurangan makan
2. Kekeurangan berat badan yang ekstrim akan menghalangi datangnya menstrasi
3. temperatur tubuh yang rendah (36-38 derajat ) adalah normal ,rendahnya ritme jantung dan rendahnya tekanan darah.



Adanya Pikiran untuk mengakhiri Hidup di masa Adolessensi juga bukan hal yang aneh lagi di Banding terjadinya bunuh diri di Eropa , Jepang dan scandinavia adalah Mungkin di negara kita masih belum begitu sering terjadi walau pun ada hanya dalam scala kecil.

Factor factor yang akan mendorong si anak untuk melakukan bunuh diri adalah contoh sebagai berikut :

1.Problem Dalam Relasi

-Karena adanya konflik relasi dengan keluarga,teman atau pacar

-Karena ada problem di sekolah

Problem relasi adalah hal yang akan membuat seseorang kesepian dan membawanya ke dunia isolasi, makanya kebanyakan timbulah rasa jenuh dalam hidup yang akan mengakibatkan pikiran untuk bunuh diri .

2.Factor kepribadian

Dalam masa adolessensi mencari identitas diri adalah prioritas maka dari itu mereka tahu untuk

Untuk menilai dirinya sendiri ,jika mereka kacau dan bingung untuk mementukan siapa dirinya karena mereka mempunyai problem dalam menentukan seksual identitasnya ,akan menimbulkan depresi dan merasa terisolasi dengan adanya kelainan seksualitas maka akan timbulah pikiran untuk bunuh diri.

3.Factor Situasi

Di sini problemen ada dalam lingkungan rumah ,seperti perceraian kedua orang tua , kematian

Kekurangan ekonomi dan rasa malu.

Ini adalah factor factor yang bisa mengiring ke arah bunuh diri.

4.Factor Sosial

Seperti susahnya mencari pekerjaan , stress , tidak punya pegangan hidup , putus asa , tidak lulus sekolah . Untuk mereka adalah semua terlalu berat untuk di jalani makanya dengan harapan cara mengakhiri hidup semua problem akan terlepas.

Setelah terjadi akhirnya kita akan melihat dan mengetahui orang yang mau bunuh diri biasanya mereka akan merasa bingung ,menarik diri dari lingkungan sosial , pribadi yang berganti ganti ,dan tidak tertarik lagi dengan aktifitas aktifitas sebelumnya yang biasa mereka lakukan.

Alcohol Dan Narkoba

Pergaulan para remaja semakin jauh dan orang tua tidak akan selamanya bisa mengikuti dan memantau kehidupan sosial anak anaknya dalam masa ini karena mereka juga akan merasa di kekang yang mana akhirnya orang tua memberi kelonggaran dalam bergaul karena di satu sisi sebagai orang tua mereka takut kehilangan anaknya.

Maka sebagi orang tua sebaikanya harus tahu dengan siapa anak anaknya bergaul jangan setelah

Ada kejadian yang menimpa anaknya baru memberi perhatian dan menyesal .

Semakin banyak orang orang yang ingin memperkaya dirinya dengan cara menjual narkoba kepada anak anak remaja dalam masa adolesensi ini karena mereka masih mencari identitas diri.

Bila seandainya mereka tidak memakainya (xtc atau barang haram dan sebaginya ) atau tidak minum alcohol dan mereka tidak akan di akui sebagai teman maka dengan ajakan teman teman yang salah mereka akan terjerumus dan akan susah untuk mengendalikannya lagi.

Malas Belajar dan Meninggalakan Bangku sekolah

Pengaruh masa adolessensi adalah berbeda kepada setiap individu ,seperti ada anak remaja yang justru semangat sekali untuk ke sekolah dan yang anak remaja lainnya justru tidak tertarik untuk ke sekolah .

Ada beberapa factor yang membuat mereka tidak mau mengikuti pelajaran atau mereka sering bolos dan yang akhirnya mereka tidak akan mendapatkan ijazah/diploma.

Pertama : karena kurangnya motivasi . takut tidak bisa ,pandangan yang negatif ,tidak cukupnya capasitas ,dan tidak adanya perhatian dari orang tua untuk prestasi sekolah.



Vandalisme (Aksi Perusakan terhadap Hak dan Milik Orang lain ) dan Kriminalitas


Arti dari vandalisme adalah perusakan dengan sengaja terhadap milik orang lain atau milik negara, dalam masa adolessensi mereka bisa dengan cepat menerima tanggapan dan ajakan orang lain untuk seperti berdemonstrasi yang di akhiri dengan vandalisme atau perusakan.

Apalagi mereka yang sangat idealist sekali dengan tradisi atau religi mereka akan dengan mudahnya di bentuk sebagai seorang yang di idealkan oleh sebuah kaum.

Dalam Adolessensi ada beberapa macam vandalisme :

Mereka melakukannya karena :

1. kejenuhan tidak ada aktifitas dalam lingkungan sosial
2. Berlaku keren dan ingin di puji oleh teman temannya , karena akan merasa di segani
3. Dari rasa dendam dan tidak merasa di perlakukan dengan adil
4. Menantang peraturan karena rasa ingin tahu saja sampai dimana keberanian mereka
5. Rasa ingin memiliki, mereka merusak barang orang karena ada yang ingin di miliki



Vandalisme untuk mereka adalah semacam tantangan dan untuk pelarian sebagai penghibur diri

Makanya bila seandainya orang tua tidak cepat tanggap akan masalah anak anak remajanya maka mereka akan memilih untuk lebih jauh lagi beraksi seperti terjerumus ke dunia narkoba,sex bebas, jual beli narkoba , merampok , mencuri dan akhirnya akan terjerumus ke kriminalitas.

Apa yang harus kita perhatikan dalam masa adolessensi adalah fungsi teman yang dekat

Untuk menghindari problem yang seperti di atas tadi kita sebagai orang tua harus memperhatikan seperti di antaranya :

1.Fungsi dari Relasi (Relationship)

Bila seandainya Orang tua jeli dengan pertumbuhan anak anaknya maka jalinlah relasi pendekatan terhadap anak anak berkomunikasilah walau sesibuk apapun sebagai orang tua,

Seperti anak sudah mulai tertarik terhadap lawan jenis , justru kita harus menstimulasinya untuk belajar membangun relasi dan memberi pengarahan apa yang mestinya di lakukan dan apa yang mestinya tidak di lakukan dengan komunikasi akan terjalin relasi yang terbuka dan demokrasi.

2.Fungsi Di akui ( Acceptation)

Para Adolesan atau para remaja ini sedang menjalani perjalanan ke arah kebebasan (kemandirian) dalam hal ini mereka sedang mencari identitasnya , dalam periode ini biasanya mereka kadang tidak bisa terbuka atau ada krisis komunikasi dengan orang tua karena merasa di dalam istilah mereka terkekang dengan alasan orang tua terlalu kritis dengan konflik seperti : telat datang di Rumah , apakah mereka tidak absen sekolah , kadang mereka salah tanggap dalam hal ini,

Pilihan teman Bergaul dalam hal ini orang tua biasanya ikut campur , potongan model rambut ,

Cara berpakaian dan seterus seterusnya , maka dari itu mereka lebih senang bergaul dengan teman temannya karena merasa mendapatkan akseptasi dari teman temannya, seandainya anak itu tidak mempunyai teman bergaul atau teman untuk mencurahkan isi hati dalam hal ini teman dekat ,mereka akan merasa kesepian dan akan menimbulkan bermacam macam problem dalam pembentukan pribadinya.

3.Fungsi Dukungan ( Supporter)

Biasanya mereka mendapatkan support atau dukungan dari teman bergaulnya dan di sini teman bergaul berfungsi sebagai contohnya saling menolong , memberikan nasihat , dimana mereka akan saling menstimulir untuk mengembangkan gaya atau caranya sendiri dalam menemukan identitas dirinya.

Orang tua biasanya akan kaget dan terheran heran bila melihat atau mendengar gaya bicara, gaya berpakaian dan cara berpikir atau pilihan musik karena biasanya lain daripada yg di harapkan oleh mereka sebagai orang tua .


Salah satu ukuran yang paling penting menurut Psycho-analisa Erik Erikson mengenai perkembangan sosial manusia adalah kita berjalan dalam 8 stadia .Setiap Stadium ada salah satu konfilk yang sangat central yang harus di selesaikan .

Stadia menurut Erik Erikson adalah sebagai berikut :

1. Usia Bayi ( 0-1 tahun)

Konflik : Kepercayaan vs Kepercayaan

2. Balita Usia (1-3 tahun)

Konflik : kemandirian vs Merasa bersalah atau Malu

3. Balita Usia (3-5 tahun)

Konflik : Inisiatif vs Merasa bersalah

4. Usia sekolah ( 6-12 tahun)

Konflik : Membangun kepercayaan diri vs Merasa rendah diri

5. Adolessensi (13-20 tahun)

Konflik : Mendapatkan identitas vs Kebingungan dalam menemukan identitas diri

6. Dewasa Awal ( 20 - 30 tahun)

7. Usia Dewasa ( 30 - 65 tahun)

8. Usia manula ( setelah 65 tahun )


Theori dari Erik Erikson adalah sangat sulit untuk di teliti tetapi Di Eropa banyak sekali para ahli therapy yang bekerja dengan para remaja (anak anak muda ), dalam usia adolessensi banyak manfaatnya yang di ambil dari cara analisa Erik Erikson. Theori itu sendiri banyak menolong dan banyak di gunakan untuk praktek dalam menangani anak anak bermasalah.

sumber : www.garut.go.id
Download file Dari sumber :
Download

Planet Remaja (PR)

Dengan slogannya Peace, Love And Gaul maka sejak awal April 2005, Planet Remaja (PR) mengalami perubahan format yang cukup signifikan dengan menggunakan studio lebih besar (Studio Pengadegan) serta setting lebih megah. Bersamaan dengan itu, PR juga menghadirkan penonton (supporter) di studio sebanyak lebih-kurang 100 orang. Mereka adalah siswa/siswi dari dua sekolah yang diundang untuk mengikuti kuis.

Kuis yang dimaksud kami beri nama Kuis 3 On 3. Peserta kuis adalah pelajar SMA atau SMP dari dua sekolah; setiap sekolah diwakili 3 siswa. Masing-masing kubu berusaha saling mengalahkan melalui adu cepat dan tepat menjawab pertanyaan dari presenter. Kuis ini sifatnya fun. Pertanyaannya pun seputar pengetahuan umum dan hal-hal yang sedang aktual.

Suasana di studio menjadi sangat meriah karena masing-masing sekolah diwajibkan membawa grup modern dance, cheers atau breakers untuk tampil live di awal, pertengahan dan akhir acara. Mereka juga heboh dengan yel-yel pembakar semangat.

Ciri khas PR sebagai program edu-tainment bagi remaja Indonesia tetap dipertahankan. Rubrik tetap OPINI yang menampilkan pendapat remaja tentang satu hal yang sedang hangat dibicarakan khalayak, bahkan disuguhkan live dengan meminta beberapa supporter di studio menyampaikan opini mereka.

Rubrik tetap lainnya adalah ZODIAK (ramalan bintang) dan AKSI (berisi liputan aktivitas positif remaja di lingkungan maupun di luar lingkungan sekolah). Rubrik lain ditampilkan secara bergantian. Mulai dari MUSIK, FILM, STUDI, TIPS, HOBI, SERGAP, PROFESI, OUTBOND, PROFIL, BINTANGTAMU, KLIP, hingga EX-USER.

Presenter Planet Remaja sekarang adalah Dwi Andhika dan Ayu Sita. Bangun tidur ku terus...Nonton Planet Remaja di antv setiap Minggu pukul 12.00 siang.

Ikuti juga kuis sms setiap minggunya dan dapatkan hadiah 1 juta rupiah untuk dua orang pemenang, dengan cara ketik PR(spasi)A/B, kirim ke 9669 dengan tarif Rp.2000/sms, untuk semua operator GSM dan CDMA.



Source : http://www.an.tv


Planet Remaja

Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja
Planet Remaja