Tampilkan postingan dengan label Masa Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Remaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2008

MENGHADAPI MASA PUBERTAS KAUM REMAJA

MENGHADAPI MASA PUBERTAS KAUM REMAJA

Oleh : Agus Santoso

Berdasarkan prediksi WHO, pada tahun 2000 nanti akan ada 110 juta penderita HIV/ AIDS , dimana 65 % akan menyerang kaum muda. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta, mengenai perilaku remaja, ternyata sekitar 6-20 persen siswa SMU dan mahasiswa pernah melakukan hubungan seks pra nikah. (Pikiran Rakyat, edisi 31 Oktober 1999).

Tingkat kerawanan masa remaja memang sudah sedemikian mengkhawatirkan. Apabila gejala seperti ini tidak mendapat penanganan yang serius, maka hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas generasi kita di tahun-tahun mendatang. Sejak berabad-abad silam Islam telah memberikan paket solusi yang tepat, namun sayangnya hal ini banyak dilupakan orang, termasuk oleh kaum muslim itu sendiri.

Masa remaja adalah masa transisi yang penuh gejolak. Pada masa ini mulai terjadi perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, organ-organ tubuh tertentu, seperti organ reproduksi atau organ seksual dan jaringan syaraf mulai berfungsi. Sedangkan secara psikis, mulai mengalami perkembangan emosional dengan ditandai adanya kecenderungan terhadap lawan jenis, adanya keinginan untuk memiliki teman khusus yang disukai, dan mulai melepaskan diri dari kendali orang tua, dll.

Oleh karena itu, masa ini merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia. Dorongan-dorongan seksual mulai muncul. Apabila tidak diarahkan secara tepat, maka dorongan-dorongan itu akan dapat menjerumuskan para remaja. Apalagi sekarang faktor lingkungan sangat merangsang munculnya penyimpangan seksual (zina). Acara-acara di televisi, tabloid, majalah, internet dan media-media lainnya dapat merangsang untuk mencoba dan menyalurkannya pada hal-hal yang haram.

Masa remaja ini juga sering disebut sebagai masa pubertas yang merupakan salah satu fase pertumbuhan yang dialami seseorang. Masa ini berjalan sekitar delapan atau sepuluh tahun, yakni pada masa antara usia 11 sampai 21 tahun.

Secara individu masa pubertas berbeda antara seorang laki-laki dan perempuan. Dari segi usia, laki-laki menjalani masa ini mulai usia 13 sampai 15 tahun. Sedangkan perempuan mulai mengalami masa iji pada usia 11 sampai 13 tahun. Iklim di suatu daerah pun memberikan pengaruh signifikan. Di daerah beriklim panas, masa pubertas relatif lebih cepat dialami dibanding di daerah dingin atau sedang.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa ini , disertai dengan gejala-gejala khusus dalam tingkah laku yang menuntut perhatian dan pengawasan. Pada saat ini, mulai muncul misteri-misteri yang mengundang kebingungan dan kegelisahan.

Jika dorongan-dorongan ini tidak disalurkan akan menimbulkan tekanan jiwa akan lahir kekecewaan. Lebih berbahaya lagi,jika pada masa ini tidak disertai dengan bimbingan agama, maka akibatnya adalah sikap kebencian terhadap agama, sikap takut dan akhirnya menghindari nilai-nilai agama. Pergaulan bebas lebih mereka sukai daripada menahan dan mengendalikan hawa nafsu di bawah lindungan agama. Na’udzubillahi min dzalika.

Upaya Solusi Islam

Secara umum, Islam telah memberikan solusi secara preventif, dalam Surat An-Nuur ayat 30 dijelaskan: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka”, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan beberapa ayat dalam surat lainnya

Bimbingan agama sejak dini bisa dijadikan sebagai tindakan preventif agar terbangun benteng yang kokoh pada diri si anak untuk menghalau godaan-godaan nafsu syaithani. Hal ini dapat menghindari terjadinya kesalahan anggapan para remaja terhadap ajaran agama. Tidak akan ada lagi anggapan bahwa agama itu sangat membatasi penyaluran seks mereka atau nilai-nilai agama itu identik dengan larangan-larangan yang sangat menakutkan. Akan tetapi justru sebaliknya, agama akan dianggap sebagai jalan menuju keselamatan, sehingga remaja bisa menahan dan menyalurkan dorongan-dorongannya ke arah yang bermanfaat, seperti giat belajar, berjihad, dll.

Akhir-akhir ini, ramai dibicarakan tentang pendidikan seks (sex education) di kalangan remaja sebagai salah satu solusi bagi mencegah maraknya kasus penyimpangan seksual di kalangan remaja. Namun, sejauh ini masih terdapat pro dan kontra terhadap bagaimana cara menerapkan pendidikan seks tersebut pada anak.

Selain secara preventif, Rasulullah SAW pun telah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana cara untuk mengatasi atau mengobati penderita penyimpangan seksual ini. Melalui metode dialogis, Rasul SAW memberikan upaya penyembuhan secara tepat dan berhasil. Berikut ini petikan dialog Rasulullah SAW dengan seorang pemuda yang datang menghadap beliau untuk minta izin berbuat zina (melakukan hubungan seks di luar nikah). Karuan saja, para sahabat yang ada di tempat itu mencaci-maki pemuda itu.

Pemuda itu berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina.” Rasulullah SAW tidak serta merta membentak dan mencaci pemuda itu sebagaimana orang-orang yang hadir di tempat itu, Rasul SAW yang mulia ini dengan tenang mendekati pemuda itudan duduk di sampingnya. Kemudian Rasul SAW balik bertanya: “Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?” Tentu saja si pemuda tadi tersentak kaget seraya menjawab: “Sekali-kali tidak. Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan.”

Rasul menimpali: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka.” Kemudian Rasulullah SAW mengulang lagi pertanyaan serupa sampai tiga kali, dengan menggantiobjek permisalannya, yakni : bagaimana kalau hal itu terjadi pada saudara perempuanmu, saudara perempuan bapakmu, dan terakhir saudara perempuan ibumu.

Dengan berondongan pertanyaan yang bertubi-tubi itu, menjadikan si pemuda semakin yakin bahwa keinginannya itu adalah perbuatan nista dan ia tidak mau memperturutkan hawa nafsunya lagi. Untuk menenangkan hati si pemuda itu, Rasulullah SAW memegang dada si pemuda sambil berdo’a: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya!” Semenjak itu, pemuda tadi menjadi orang yang arif.

Begitulah Guru Besar kita memberikan terapi yang manjur dan sangat membekas di hati seorang pemuda yang meluap-luap dorongan seksualnya.

Di samping itu, peran orang tua di rumah sangat besar peranannya untuk mencegah terjadinya bentuk penyimpangan seksual pada anak remaja (usia puber). Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para orang tua dalam membimbing anak-anaknya. Antara lain:

Pertama, anak remaja agar dijauhkan dari segala sesuatu yang dapat mempengaruhi nafsu syahwatnya.

Kedua, hindarkan anak dari kebiasaan melamun atau duduk termenung melambungkan angan-angan negatifnya. Arahkanlah anak terhadap aktivitas-aktivitas positif.

Ketiga, pisahkan tempat tidur anak lelaki dan perempuan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Keempat, apabila sudah terlanjur maka bimbinglah untuk bertaubat, mohon ampunan kepada Allah SWt agar dosa-dosanya terhapus dan tidak mengulangi perbuatan nista itu lagi serta kembali ke jalan Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshawab.

Dari berbagai sumber.

sumber : http://agusmupla.files.wordpress.com/2007/10/menghadapi-masa-pubertas.doc

Memasuki Masa Pubertas Tanpa Gejolak

Memasuki Masa Pubertas Tanpa Gejolak

Masa remaja, suatu masa yang setiap orang pasti melewatinya. Begitu menyenangkan namun tidak sedikit yang merasa bingung dan gundah. Kenapa ?

Seringkali seorang anak memasuki masa remajanya tanpa bekal yang cukup, terutama tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya sehingga dapat menimbulkan ketakutan dan keresahan. Hal ini kadang juga dibarengi dengan perasaan malu bertanya kepada orang tua dan lebih memilih tanya pada teman sebaya yang notabene juga senasib dengannya alias sama-sama gak tahu.

Masa pubertas
Masa remaja identik dengan masa pubertas karena pada masa ini telah terjadi kematangan organ reproduksi sehingga terjadi perubahan fisik dan emosi. Perubahan ini adalah suatu hal yang wajar, yang harus mereka kenali dan fahami agar lebih siap, dapat bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut, dan tidak menimbul gejolak yang berlebihan.

Terjadinya perubahan ini waktunya tidak sama pada tiap-tiap anak. Umumnya pada remaja putra 11 – 15 tahun, sedang pada remaja putri biasanya terjadi pada usia 9 – 13 tahun. Kematangan alat reproduksi pada remaja putra ditandai dengan keluar air mani (ejakulasi) yang pertama, yang ditandai dengan mimpi basah, kemudian suara menjadi lebih berat, jakun lebih menonjol, dan tumbuh rambut pada beberapa bagian tertentu.

Adapun tanda kematangan alat reproduksi pada remaja putri berupa pinggul mulai membesar, banyak keringat yang sering diikuti timbul bau badan (BB), haid pertama, jerawat, tumbuh rambut halus pada ketiak, kaki, kelamin luar.

Tanda perubahan fisik ini juga dibarengi dengan terjadinya perubahan psikis diantaranya mulai tertarik pada lawan jenis, tidak PD, gelisah, perasaan ingin bersaing.

Tanpa Gejolak
Munculnya tanda-tanda pubertas seringkali menimbulkan gejolak tersendiri bagi seorang remaja. Hal ini dapat diminimalkan dengan adanya dukungan dari orang tua, guru, dan lingkungan berupa bimbingan dan arahan tentang apa dan bagaimana mereka melewati masanya. Remaja tetap berhak melewati masa pubertasnya dengan ceria tanpa hambatan yang berarti.

Ada hal-hal penting yang bisa dilakukan remaja lebih dari sekedar memikirkan perubahan atau kekurangannya antara lain mengembangkan hobi dan kreatifitas, mengembangkan persahabatan, meningkatkan nilai spiritual, meningkatkan prestasi dan mengembangkan pengetahuan.

Sedangkan untuk mengatasi ke-kurangpede-an karena perubahan diri, setiap remaja hendaknya selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuhnya, khususnya organ reproduksinya dengan cara mandi 2x sehari, keramas 2-3x seminggu, rajin membersihkan muka, mengatasi BB dengan deodorant/sejenis, mengganti pakaian dalam setiap hari, makan makanan bergizi, dan olahraga teratur.

Dengan pengetahuan yang cukup dan dukungan yang optimal diharapkan para remaja dapat melewati masa pubertasnya tanpa gejolak.

Apa itu mimpi basah?
Remaja laki-laki memproduksi sperma setiap harinya. Sperma tidak harus selalu dikeluarkan, ia akan diserap oleh tubuh. Sperma bisa dikeluarkan melalui proses yang disebut ejakulasi, yaitu keluarnya sperma melalui penis. Ejakulasi bisa terjadi secara alami (tidak disadari oleh remaja laki-laki) melalui mimpi basah.

Tips merawat kebersihan organ reproduksi

  1. Jangan memakai celana dalam yang terlalu ketat (torsio, mengganggu spermatogenesis).
  2. Khitan, bagi laki-laki, untuk menjaga kebersihan penis (kulit yang menutupi ujung penis).
  3. Haid. Saat haid rajin berganti celana dalam dan pembalut
  4. Membersihkan/membilas setelah buang air kecil.
  5. Celana dalam harus bersih, sering diganti, dari bahan yang menyerap keringat.

Apa Yang Terjadi Dalam Masa Adolessensi Atau Masa Remaja

Apa Yang Terjadi Dalam Masa Adolessensi Atau Masa Remaja

Oleh : Nungky Gabriel


Adolessensi adalah berasal dari kata latin yang berati “adolescentia”

Meninggalkan ketergantungan masa anak anak menuju kemandirian sebagai orang dewasa.

Kita akan terbiasa dengan kata masa remaja ,masa masa di sekolah , masa pertama mengenal kata cinta dan masa nostalgia, yang mana kita memang tidak akan pernah lepas dari masa kenangan itu baik itu kenangan indah ataupun kenangan yang menyedihkan atau tidak menyenangkan.

Ketika masa Adolessensi para remaja secara physik dengan mudahnya menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada tubuh mereka ,seperti perubahan suara , pertumbuhan bulu di kelamin dan untuk remaja wanita dengan tumbuhnya payudara dan datangnya menstruasi.

Yang mana sebelumnya kata adolessensi di kategorikan untuk umur 17 tahun -30 tahun,sekarang

para psykolog dan para ahli anak menkategorikannya untuk usia 12 tahun-21 tahun.

Bagian pertama dari adolessensi adalah masa pubersitas dimana kata puber berasal

Dari kata latin “PUBES “ yang artinya Bulu yang tumbuh di sekitar kelamin

Dengan tumbuhnya bulu di sekitar kelamin kita akan menganggap bahwa anak itu dewasa.


Apa sebenarnya yang kita ketahui dari anak anak remaja jaman sekarang ?

Pada usia antara 12 -21 tahun banyak pergantian yang terjadi dalam perkembangan tubuh dan mental .

Remaja usia 12 tahun masih minta di temani dan masih ketakutan untuk melakukan sesuatu , Remaja yang berusia setelah 15 tahun biasanya sudah bisa menetukan kemaunanya dan mulai dengan mencari identitasnya sendiri, remaja yg hampir mencapai usia 21 kadang sudah sangat mandiri

.

Ada dua macam perkembangan dalam masa adolessensi yaitu:

1.Perkembangan Dalam masa pertumbuhan Badan

2.Perkembangan Dalam masa pertumbuhan mental

1.Perkembangan Dalam Masa Pertumbuhan Badan (fysik)

Rata rata pertumbuhan manusia berlipat setelah mencapai umur 4 tahun,dan kapan anak itu mencapai umur 13 tahun akan 3 kali lebih panjang dari ukuran sejak lahirnya

Anak perempuan dan anak laki laki sampai umur 10 tahun rata rata akan sama tingginya dan disinilah kita akan melihat perkembangan yang jelas antara kedua jenis yang berbeda,karena

Anak perempuan dalam usia 8 -12 tahun berkembang dan akan kita lihat perubahan yang sangat mencolok sekali seperti , tumbuhnya payudara , datangnya menstruasi, senang bersolek , membesarnya bagian bokong, dan seterusnya. Apa yang terjadi pada anak laki-laki adalah terjadi perkembangan di antara usia 10 - 14 tahun, seperti adanya perubahan suara , tumbuhnya kumis, timbulnya buah jakun ,pembesaran scrotum yang berfungsi sebagai penyimpanan dan pembuatan sperma juga pertumbuhan Penis yang akan membawa ke arah perkembangan rangsangan kegiatan seksualitas..

Setiap Anak memang tumbuh dengan temponya sendiri sendiri ,dan memang itu sulit untuk memastikan kapan terjadinya perkembangan yang sebenarnya.


Sebagai orang tua tentunya kita akan mengerti dengan adanya masa pergantian karena biasanya mereka masih malu malu untuk berbicara tentang pergantiaan pertumbuhan yang terjadi pada dirinya seperti terjadinya : jerawat (acne) , pergantian suara , bertambahnya masa otot , tumbuhnya payudara ,menstruasi dan rangsangan seksualitas.

Ada dua macam istilah pertumbuhan badan dalam mencapai masa adolesensi seperti :

Istilah Primer adalah pertumbuhan yang terjadi langsung pada jenis kelamin untuk mempunyai keturunan seperti pada remaja laki adalah pertumbuhan penis ,tecticle (buah dzakar ) dan scrotum (penyimpanan sperma)

Istilah Secunder adalah pertumbuhan yang terjadi secara tidak langsung dengan fungsi kelamin sebagai alat pemberi keturunan seperti terjadinya pertumbuhan bulu di sekitar kelamin , ketiak membesarnya pertumbuhan di dada , tumbuhnya kumis , tumbuhnya bulu dada (sebagian remaja karena ada factor genetik) dan pergantian suara .Begitu juga sama apa yang terjadi pada remaja perempuan seperti tumbuhnya bulu di sekitar kelamin ,ketiak dan membesarnya bagian bokong juga pertumbuhan payudara.


2.Perkembangan Dalam Masa Perkembangan Mental

Menurut ahli psychoanaliticus Erik Erikson ada beberapa macam para remaja cara mencari identitas dirinya , seperti contoh :

1.Mendapatkan identitas sendiri

Sebetulnya para adolessensi sudah sibuk dengan dirinya untuk mendapatkan jawaban yang mereka kemukakan sendiri di dalam hatinya .

Mereka sudah bisa memastikan apa yang mereka kehendaki dalam memilih , mau jadi apa nantinya ? . Dengan sendirinya mereka akan mencari informasi melalui teman atau melalui media dan lain sebagainya.

2.Mendapatkan identitas dini

Untuk para adolessensi yang identitasnya di tentukan oleh kemauan orang tua, tradisi atau religi,

Bisa menetukan masa depan mereka . Mereka tidak punya kesempatan untuk mencari identitasnya sendiri untuk menentukan pilihannya.

3.Identitas yang kacau dan bingung

Dalam situasi ini para adolessensi belum tahu apa yang harus mereka perbuat , mereka tidak tahu dalam hal untuk memilih ,mereka tidak bisa menetukan siapa dirinya dan kadang mereka mempunyai perasaan yang negatif dan mereka ragu akan kemampuan dirinya.

4. Identitas yang Negatif

Kadang akibat dari lanjutan identitas yang kacau dan bingung (lihat no.3) maka biasanya mereka akan memilih jalan yang justru kontra dengan keinginan orang tuanya dan lingkungan sosial.


Maka di sini kita sebagia orang tua harus alert dan banyak berkomunikasi dengan para remaja dalam masa adolessensi untuk memberikan rasa percaya diri dan dukungan dalam hal memilih karena walau bagaimanapun komunikasi yang baik antara anak dan orang tua adalah merupakan stimulasi untuk kedua belah pihak.

Dalam masa adolessensi ini justru kebanyakan para remaja akan banyak bertemu dengan masalah dan problem yang mereka sendiri belum bisa mengendalikannya.

Contoh permasalahan atau problem dalam masa ini seperti kita sering jumpai seperti :

* Anorexia nervosa
* Adanya pikiran untuk bunuh diri
* Terjerumus ke dunia alcohol dan narkoba
* Malas untuk Belajar /meninggalakan bangku sekolah
* Vandalisme/pengrusakan dan kriminalitas



Anorexia Nervosa kebanyakan terjadi dan populer di dunia remaja perempuan karena mereka selain mempunyai model idola yang mengarah ke dunia fashion juga mereka selalu sibuk dengan mengurus tubuhnya dan selalu ingin bersolek untuk bisa semenarik mungkin pada lawan jenisnya ,kadang mereka takut makan karena takut di tertawakan kalau dia kegemukan atau jadi tidak menarik lagi.

Anorexia nervosa adalah bukan masalah sekarang tetapi sudah di temukan pada tahun 1873 .

Tanda tanda Anorexia nervosa kita bisa perhatikan apabila seorang remaja perempuan :

1. Mereka lebih kurus 25% dari berat badan normal dan tinggi badan karena akibat ekstrimnya pengurangan makan
2. Kekeurangan berat badan yang ekstrim akan menghalangi datangnya menstrasi
3. temperatur tubuh yang rendah (36-38 derajat ) adalah normal ,rendahnya ritme jantung dan rendahnya tekanan darah.



Adanya Pikiran untuk mengakhiri Hidup di masa Adolessensi juga bukan hal yang aneh lagi di Banding terjadinya bunuh diri di Eropa , Jepang dan scandinavia adalah Mungkin di negara kita masih belum begitu sering terjadi walau pun ada hanya dalam scala kecil.

Factor factor yang akan mendorong si anak untuk melakukan bunuh diri adalah contoh sebagai berikut :

1.Problem Dalam Relasi

-Karena adanya konflik relasi dengan keluarga,teman atau pacar

-Karena ada problem di sekolah

Problem relasi adalah hal yang akan membuat seseorang kesepian dan membawanya ke dunia isolasi, makanya kebanyakan timbulah rasa jenuh dalam hidup yang akan mengakibatkan pikiran untuk bunuh diri .

2.Factor kepribadian

Dalam masa adolessensi mencari identitas diri adalah prioritas maka dari itu mereka tahu untuk

Untuk menilai dirinya sendiri ,jika mereka kacau dan bingung untuk mementukan siapa dirinya karena mereka mempunyai problem dalam menentukan seksual identitasnya ,akan menimbulkan depresi dan merasa terisolasi dengan adanya kelainan seksualitas maka akan timbulah pikiran untuk bunuh diri.

3.Factor Situasi

Di sini problemen ada dalam lingkungan rumah ,seperti perceraian kedua orang tua , kematian

Kekurangan ekonomi dan rasa malu.

Ini adalah factor factor yang bisa mengiring ke arah bunuh diri.

4.Factor Sosial

Seperti susahnya mencari pekerjaan , stress , tidak punya pegangan hidup , putus asa , tidak lulus sekolah . Untuk mereka adalah semua terlalu berat untuk di jalani makanya dengan harapan cara mengakhiri hidup semua problem akan terlepas.

Setelah terjadi akhirnya kita akan melihat dan mengetahui orang yang mau bunuh diri biasanya mereka akan merasa bingung ,menarik diri dari lingkungan sosial , pribadi yang berganti ganti ,dan tidak tertarik lagi dengan aktifitas aktifitas sebelumnya yang biasa mereka lakukan.

Alcohol Dan Narkoba

Pergaulan para remaja semakin jauh dan orang tua tidak akan selamanya bisa mengikuti dan memantau kehidupan sosial anak anaknya dalam masa ini karena mereka juga akan merasa di kekang yang mana akhirnya orang tua memberi kelonggaran dalam bergaul karena di satu sisi sebagai orang tua mereka takut kehilangan anaknya.

Maka sebagi orang tua sebaikanya harus tahu dengan siapa anak anaknya bergaul jangan setelah

Ada kejadian yang menimpa anaknya baru memberi perhatian dan menyesal .

Semakin banyak orang orang yang ingin memperkaya dirinya dengan cara menjual narkoba kepada anak anak remaja dalam masa adolesensi ini karena mereka masih mencari identitas diri.

Bila seandainya mereka tidak memakainya (xtc atau barang haram dan sebaginya ) atau tidak minum alcohol dan mereka tidak akan di akui sebagai teman maka dengan ajakan teman teman yang salah mereka akan terjerumus dan akan susah untuk mengendalikannya lagi.

Malas Belajar dan Meninggalakan Bangku sekolah

Pengaruh masa adolessensi adalah berbeda kepada setiap individu ,seperti ada anak remaja yang justru semangat sekali untuk ke sekolah dan yang anak remaja lainnya justru tidak tertarik untuk ke sekolah .

Ada beberapa factor yang membuat mereka tidak mau mengikuti pelajaran atau mereka sering bolos dan yang akhirnya mereka tidak akan mendapatkan ijazah/diploma.

Pertama : karena kurangnya motivasi . takut tidak bisa ,pandangan yang negatif ,tidak cukupnya capasitas ,dan tidak adanya perhatian dari orang tua untuk prestasi sekolah.



Vandalisme (Aksi Perusakan terhadap Hak dan Milik Orang lain ) dan Kriminalitas


Arti dari vandalisme adalah perusakan dengan sengaja terhadap milik orang lain atau milik negara, dalam masa adolessensi mereka bisa dengan cepat menerima tanggapan dan ajakan orang lain untuk seperti berdemonstrasi yang di akhiri dengan vandalisme atau perusakan.

Apalagi mereka yang sangat idealist sekali dengan tradisi atau religi mereka akan dengan mudahnya di bentuk sebagai seorang yang di idealkan oleh sebuah kaum.

Dalam Adolessensi ada beberapa macam vandalisme :

Mereka melakukannya karena :

1. kejenuhan tidak ada aktifitas dalam lingkungan sosial
2. Berlaku keren dan ingin di puji oleh teman temannya , karena akan merasa di segani
3. Dari rasa dendam dan tidak merasa di perlakukan dengan adil
4. Menantang peraturan karena rasa ingin tahu saja sampai dimana keberanian mereka
5. Rasa ingin memiliki, mereka merusak barang orang karena ada yang ingin di miliki



Vandalisme untuk mereka adalah semacam tantangan dan untuk pelarian sebagai penghibur diri

Makanya bila seandainya orang tua tidak cepat tanggap akan masalah anak anak remajanya maka mereka akan memilih untuk lebih jauh lagi beraksi seperti terjerumus ke dunia narkoba,sex bebas, jual beli narkoba , merampok , mencuri dan akhirnya akan terjerumus ke kriminalitas.

Apa yang harus kita perhatikan dalam masa adolessensi adalah fungsi teman yang dekat

Untuk menghindari problem yang seperti di atas tadi kita sebagai orang tua harus memperhatikan seperti di antaranya :

1.Fungsi dari Relasi (Relationship)

Bila seandainya Orang tua jeli dengan pertumbuhan anak anaknya maka jalinlah relasi pendekatan terhadap anak anak berkomunikasilah walau sesibuk apapun sebagai orang tua,

Seperti anak sudah mulai tertarik terhadap lawan jenis , justru kita harus menstimulasinya untuk belajar membangun relasi dan memberi pengarahan apa yang mestinya di lakukan dan apa yang mestinya tidak di lakukan dengan komunikasi akan terjalin relasi yang terbuka dan demokrasi.

2.Fungsi Di akui ( Acceptation)

Para Adolesan atau para remaja ini sedang menjalani perjalanan ke arah kebebasan (kemandirian) dalam hal ini mereka sedang mencari identitasnya , dalam periode ini biasanya mereka kadang tidak bisa terbuka atau ada krisis komunikasi dengan orang tua karena merasa di dalam istilah mereka terkekang dengan alasan orang tua terlalu kritis dengan konflik seperti : telat datang di Rumah , apakah mereka tidak absen sekolah , kadang mereka salah tanggap dalam hal ini,

Pilihan teman Bergaul dalam hal ini orang tua biasanya ikut campur , potongan model rambut ,

Cara berpakaian dan seterus seterusnya , maka dari itu mereka lebih senang bergaul dengan teman temannya karena merasa mendapatkan akseptasi dari teman temannya, seandainya anak itu tidak mempunyai teman bergaul atau teman untuk mencurahkan isi hati dalam hal ini teman dekat ,mereka akan merasa kesepian dan akan menimbulkan bermacam macam problem dalam pembentukan pribadinya.

3.Fungsi Dukungan ( Supporter)

Biasanya mereka mendapatkan support atau dukungan dari teman bergaulnya dan di sini teman bergaul berfungsi sebagai contohnya saling menolong , memberikan nasihat , dimana mereka akan saling menstimulir untuk mengembangkan gaya atau caranya sendiri dalam menemukan identitas dirinya.

Orang tua biasanya akan kaget dan terheran heran bila melihat atau mendengar gaya bicara, gaya berpakaian dan cara berpikir atau pilihan musik karena biasanya lain daripada yg di harapkan oleh mereka sebagai orang tua .


Salah satu ukuran yang paling penting menurut Psycho-analisa Erik Erikson mengenai perkembangan sosial manusia adalah kita berjalan dalam 8 stadia .Setiap Stadium ada salah satu konfilk yang sangat central yang harus di selesaikan .

Stadia menurut Erik Erikson adalah sebagai berikut :

1. Usia Bayi ( 0-1 tahun)

Konflik : Kepercayaan vs Kepercayaan

2. Balita Usia (1-3 tahun)

Konflik : kemandirian vs Merasa bersalah atau Malu

3. Balita Usia (3-5 tahun)

Konflik : Inisiatif vs Merasa bersalah

4. Usia sekolah ( 6-12 tahun)

Konflik : Membangun kepercayaan diri vs Merasa rendah diri

5. Adolessensi (13-20 tahun)

Konflik : Mendapatkan identitas vs Kebingungan dalam menemukan identitas diri

6. Dewasa Awal ( 20 - 30 tahun)

7. Usia Dewasa ( 30 - 65 tahun)

8. Usia manula ( setelah 65 tahun )


Theori dari Erik Erikson adalah sangat sulit untuk di teliti tetapi Di Eropa banyak sekali para ahli therapy yang bekerja dengan para remaja (anak anak muda ), dalam usia adolessensi banyak manfaatnya yang di ambil dari cara analisa Erik Erikson. Theori itu sendiri banyak menolong dan banyak di gunakan untuk praktek dalam menangani anak anak bermasalah.

sumber : www.garut.go.id
Download file Dari sumber :
Download